Bulan Terbelah di Langit Amerika: Representasi Warga Muslim di Amerika Paska Tragedi 9/11

02:07 Semut Nakal 14 0 Comments

Ditulis oleh Mega Kusumawati

Tragedi 11 September 2001 merupakan kejadian yang paling diingat oleh warga Amerika, bahkan seluruh dunia. Bagaimana tidak? Pada hari itu, gedung World Trade Center  (WTC) dihantam pesawat yang hingga kini diyakini sebagai tindakan terorisme yang dilakukan oleh kelompok teroris Al Qaeda. Akibat tragedy itu, hamper sekitar 3.000 orang kehilangan nyawanya. Paska tragedi 11 September 2001, perlakuan kasar dialami warga muslim minoritas di negara non muslim Amerika. Berbagai kasus ungkapan kebencian dan perlakuan diskriminasi dialami warga muslim yang tinggal di Amerika Serikat. Rizal Mantovani sebagai sutradara mencoba merepresentasikannya kedalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika.
Bulan Terbelah di Langit Amerika diangkat dari novel berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais bersama sang suami Rangga Almahendra. Dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika mengusung tema mengenai Islam di Amerika –menyoroti kuatnya diskriminasi terhadap masyarakat muslim di Amerika serikat paska tragedi 11 September. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); diskriminasi diartikan sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga Negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi dan agama).

Diskriminasi Terhadap Kaum Muslim
            Film ini bercerita tentang Hanum, seorang reporter dari Wina yang ditugaskan untuk membuat artikel dengan tema “Apakah dunia akan lebih baik tanpa islam?”. Ia harus mewawancarai seorang narasumber dari Amerika bernama Azima –yang sudah berganti nama menjadi Julia Collins –seorang janda yang telah kehilangan kebanggaan akan Islam karena suaminya diduga menjadi salah satu teroris pada tragedi 11 September dan anaknya Sarah Hussein –yang menanyakan tentang siapa dan dimana ayahnya dalam sebuah video yang diunggahnya ke Youtube. Ini merupakan awal dari perlakuan diskriminasi terhadap muslim yang dihadirkan dalam film. Dimana Getrude, atasan Hanum yang menugaskannya menginginkan jawaban bahwa Islam memang agama teroris.

Disisi lain, Rangga Almahendra –suami Hanum juga ditugaskan untuk merekam pidato dari seorang miliarder bernama Philipus Brown dan meyakinkannya datang ke Wina untuk memberi kuliah umum di Universitas dia belajar. Dalam menjalankan tugasnya, mereka –Rangga dan Hanum– meminta bantuan kepada temannya Stefan yang tinggal di New York. Baik Hanum maupun Rangga, mereka kesusahan dalam mewawancarai narasumber mereka lantaran baik Azima maupun Philipus Brown tidak tertarik dengan media. Apalagi Azima yang terlihat sangat membenci wartawan dikarenakan dalam anggapannya, wartawan hanya peduli dengan wawancara dan tidak mempedulikan orang yang diwawancarai. Dalam upaya Hanum membangun kepercayaan terhadap Azima, persoalan lain datang menghampirinya yaitu; diskriminasi terhadapnya dari masyarakat Amerika karena memakai hijab –tanda seorang muslim.
Perlakuan-perlakuan diskriminasi tersebut dihadirkan di sepanjang film, baik dari Michael Jones –suami dari salah satu korban tragedi 11 september sekaligus ketua demo penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Billi Hartman –tetangga dari Azima sekaligus suami dan ayah dari korban tragedi 11 September, sampai segerombol anak muda di jalanan yang tidak ada hubungan dengan korban dari tragedi 11 September di WTC. Film ini merangkum kemarahan pada Islam dengan berbagai sudut pandang.
Pembelaan Muslim          
Dimulai dari Hanum dan Rangga saat berada di Ground Zero, seorang wanita warga Amerika melihat dan menunjuk-nunjuk Hanum dengan menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan.


(Perlakuan diskriminasi warga Amerika terhadap Hanum)

Itu hanya permulaan sikap diskriminasi yang diterima Hanum sejak tiba di Amerika Serikat. Belum lagi saat Hanum akan berkunjung ke rumah Julia Collins, namun rumah yang ditujunya salah –merupakan rumah salah satu kerabat korban tragedi 11 September yaitu Billi Hartman. Hanum kembali mendapatkan perlakuan kasar, antara Hanum dan Billi Hartman tidak saling mengenal, namun setiap kali Billi Hartman melihat wanita berhijab, dia selalu teringat keluarganya yang meninggal di WTC.
Sejatinya, niat Hanum baik, ia mencoba membangun kepercayaan Azima bahwasanya suaminya bukan seorang teroris sekaligus mengklarifikasi persepsi masyarakat yang menganggap muslim adalah seorang teroris lewat artikel yang akan dibuatnya. Pembelaan yang dilakukan Hanum disini jelas terasa dalam adegan pengembalian kue oleh Billi Hartman ke Sarah, juga ketika penentangannya kepada wawancara yang disampaikan Michael Jones ketika demo pembangunan masjid di Ground Zero.


Pembuat film tak melulu menghadirkan pelaku diskriminasi dari kerabat korban Tragedi WTC. Namun juga orang yang tidak serta merta berhubungan dengan korban. Adapun dalam adegan saat Hanum berjalan dan terjatuh kemudian ditolong seorang biarawati –disini pembuat film juga tidak selalu menampilkan kemarahan masyarakat Amerika. Kemudian mereka berdua –Hanum dan biarawati –bertemu dengan segerombolan anak muda yang berlaku sama seperti dua tokoh antagonis yang ditampilkan sebelumnya.
Pembuat film berhasil membuat penonton berfikir bahwasanya memang Husein salah satu pelaku pengeboman WTC dari adegan pembicaraan Husein dengan seseorang melalui telephone di awal film. Namun dalam adegan-adegan di akhir film, menampilkan pembenaran dari permasalahan yang dihadirkan dari tokoh-tokoh melalui pidato yang dilakukan Philipus Brown. Dari Anna –istri dari Philipus Brown, yang ternyata meninggal karena asmanya kambuh saat pengeboman WTC terjadi, lalu memilih terjun lewat jendela. Dan apa yang terjadi kepada Husein yang berusaha menyelamatkannya. Rizal Mantovani selaku sutradara mencoba menggeser stereotip tentang islam dimata masyarakat.

Tentang Penulis

Mega Kusumawati 14148152

0 komentar: