Bulan Terbelah di Langit Amerika: Representasi Warga Muslim di Amerika Paska Tragedi 9/11
Ditulis oleh Mega Kusumawati
Tragedi 11 September 2001 merupakan kejadian yang paling diingat
oleh warga Amerika, bahkan seluruh dunia. Bagaimana tidak? Pada hari itu,
gedung World Trade Center (WTC) dihantam pesawat yang hingga
kini diyakini sebagai tindakan terorisme yang dilakukan oleh kelompok teroris
Al Qaeda. Akibat tragedy itu, hamper sekitar 3.000 orang kehilangan nyawanya.
Paska tragedi 11 September 2001, perlakuan kasar dialami warga muslim minoritas
di negara non muslim Amerika. Berbagai kasus ungkapan kebencian dan perlakuan
diskriminasi dialami warga muslim yang tinggal di Amerika Serikat. Rizal
Mantovani sebagai sutradara mencoba merepresentasikannya kedalam film Bulan
Terbelah di Langit Amerika.
Bulan Terbelah di Langit Amerika diangkat dari novel
berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais bersama sang suami Rangga Almahendra.
Dalam film Bulan Terbelah di Langit Amerika mengusung tema mengenai Islam di
Amerika –menyoroti kuatnya diskriminasi terhadap masyarakat muslim di Amerika
serikat paska tragedi 11 September. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
diskriminasi diartikan sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga Negara
(berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi dan agama).
Diskriminasi Terhadap
Kaum Muslim
Film ini bercerita tentang Hanum, seorang reporter dari Wina yang ditugaskan
untuk membuat artikel dengan tema “Apakah dunia akan lebih baik tanpa islam?”.
Ia harus mewawancarai seorang narasumber dari Amerika bernama Azima –yang sudah
berganti nama menjadi Julia Collins –seorang janda yang telah kehilangan
kebanggaan akan Islam karena suaminya diduga menjadi salah satu teroris pada
tragedi 11 September dan anaknya Sarah Hussein –yang menanyakan tentang siapa
dan dimana ayahnya dalam sebuah video yang diunggahnya ke Youtube. Ini
merupakan awal dari perlakuan diskriminasi terhadap muslim yang dihadirkan
dalam film. Dimana Getrude, atasan Hanum yang menugaskannya menginginkan
jawaban bahwa Islam memang agama teroris.
Disisi lain, Rangga Almahendra –suami Hanum juga ditugaskan
untuk merekam pidato dari seorang miliarder bernama Philipus Brown dan
meyakinkannya datang ke Wina untuk memberi kuliah umum di Universitas dia
belajar. Dalam menjalankan tugasnya, mereka –Rangga dan Hanum– meminta
bantuan kepada temannya Stefan yang tinggal di New York. Baik Hanum maupun
Rangga, mereka kesusahan dalam mewawancarai narasumber mereka lantaran baik
Azima maupun Philipus Brown tidak tertarik dengan media. Apalagi Azima yang
terlihat sangat membenci wartawan dikarenakan dalam anggapannya, wartawan hanya
peduli dengan wawancara dan tidak mempedulikan orang yang diwawancarai. Dalam
upaya Hanum membangun kepercayaan terhadap Azima, persoalan lain datang
menghampirinya yaitu; diskriminasi terhadapnya dari masyarakat Amerika karena
memakai hijab –tanda seorang muslim.
Perlakuan-perlakuan diskriminasi tersebut dihadirkan di
sepanjang film, baik dari Michael Jones –suami dari salah satu korban tragedi
11 september sekaligus ketua demo penolakan pembangunan masjid di Ground Zero,
Billi Hartman –tetangga dari Azima sekaligus suami dan ayah dari korban tragedi
11 September, sampai segerombol anak muda di jalanan yang tidak ada hubungan
dengan korban dari tragedi 11 September di WTC. Film ini merangkum kemarahan
pada Islam dengan berbagai sudut pandang.
Pembelaan
Muslim
Dimulai dari Hanum dan Rangga saat berada di Ground Zero,
seorang wanita warga Amerika melihat dan menunjuk-nunjuk Hanum dengan
menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan.
(Perlakuan
diskriminasi warga Amerika terhadap Hanum)
Itu hanya permulaan
sikap diskriminasi yang diterima Hanum sejak tiba di Amerika Serikat. Belum
lagi saat Hanum akan berkunjung ke rumah Julia Collins, namun rumah yang ditujunya
salah –merupakan rumah salah satu kerabat korban tragedi 11 September yaitu
Billi Hartman. Hanum kembali mendapatkan perlakuan kasar, antara Hanum dan
Billi Hartman tidak saling mengenal, namun setiap kali Billi Hartman melihat
wanita berhijab, dia selalu teringat keluarganya yang meninggal di WTC.
Sejatinya, niat Hanum baik, ia mencoba membangun kepercayaan
Azima bahwasanya suaminya bukan seorang teroris sekaligus mengklarifikasi
persepsi masyarakat yang menganggap muslim adalah seorang teroris lewat artikel
yang akan dibuatnya. Pembelaan yang dilakukan Hanum disini jelas terasa
dalam adegan pengembalian kue oleh Billi Hartman ke Sarah, juga ketika
penentangannya kepada wawancara yang disampaikan Michael Jones ketika demo
pembangunan masjid di Ground Zero.
Pembuat film tak melulu menghadirkan pelaku diskriminasi dari
kerabat korban Tragedi WTC. Namun juga orang yang tidak serta merta berhubungan
dengan korban. Adapun dalam adegan saat Hanum berjalan dan terjatuh kemudian
ditolong seorang biarawati –disini pembuat film juga tidak selalu menampilkan
kemarahan masyarakat Amerika. Kemudian mereka berdua –Hanum dan biarawati
–bertemu dengan segerombolan anak muda yang berlaku sama seperti dua tokoh
antagonis yang ditampilkan sebelumnya.
Pembuat film berhasil membuat penonton berfikir bahwasanya
memang Husein salah satu pelaku pengeboman WTC dari adegan pembicaraan Husein
dengan seseorang melalui telephone di awal film. Namun dalam
adegan-adegan di akhir film, menampilkan pembenaran dari permasalahan yang
dihadirkan dari tokoh-tokoh melalui pidato yang dilakukan Philipus Brown. Dari
Anna –istri dari Philipus Brown, yang ternyata meninggal karena asmanya kambuh
saat pengeboman WTC terjadi, lalu memilih terjun lewat jendela. Dan apa yang
terjadi kepada Husein yang berusaha menyelamatkannya. Rizal Mantovani selaku
sutradara mencoba menggeser stereotip tentang islam dimata masyarakat.
Tentang Penulis
Mega Kusumawati 14148152




0 komentar: